Change Your Luck !

Sunday, October 21, 2012 · Posted in ,

 I've posted his letter on some of my previous post, then to make it fair, I guess I'll put the letter I wrote to him too here. Well, don't expect to read something sweet from me, because I'm sucks like that. :))



Ahem.

Demi dewa neptunus, saya benci seperti ini. *cih*
Seperti yang sudah diketahui. Segala kenajisan raga dan jiwa ini berawal dari 5 tahun yang lalu. Kamis, 2 September 2004. Di satu sore, entah mendapat dorongan kompulsif darimana, saya tiba-tiba saja terdampar di sebuah distro dan dipertemukan dengan penjaga nya yang tak bermimik, dan melihat dia saya seperti ternotifikasi.  love crush at the first sight’ ? alah. Najis. sama sekali bukan. Saya manusia yang paling tidak percaya pada fenomena satu itu. [mungkin saya harus menyelipkan kata ‘dulunya’ :p] tapi ada sesuatu yang magis dengan wajah tak bermimik itu. Entah apa. Sebentar. Err. Physically attracted, maybe? yeah. Physically attracted, affirmative. Tidak lebih. semenjak kunjungan pertama, manusia itu seperti terkonservasi di dalam otak. dan tiba2 saja berselang beberapa minggu setelah kunjungan ke tempat itu, terjadi percakapan lewat tulisan dengan media yang hanya 160 karakter panjangnya. Tidak ada yang berkesan. Sama sekali. Semuanya obrolan yang biasa saja. Sebentar terlibat pembicaraan. Lalu menghilang. Raib! Tapi anehnya setelah itu, manusia itu tidak pernah benar-benar hilang dari gambaran. Sesekali muncul. Sesekali hilang. Kaya setan. :p

Lalu entah kenapa, ketika otak udah hampir-hampir bersih dari hasil sekresi visualisasi dirinya, tiba-tiba satu tahun kemudian,  saya harus kembali bertemu lagi dengan manusia keparat itu di kafe 19. Dan saya baru tau kekeparatan pikiran akan dimulai kembali. #Ahem. Dan, walaupun sebelum2nya memang berekspektasi akan ada pertemuan2 berikutnya, tapi harga diri dan tingkat keterkejutan serta kegugupan yang berelevasi tinggi membuat saya hanya bisa tersenyum  dan segera menghilangkan diri. bodoh ? seharusnya memang jadi nama tengah saya waktu itu. #tamparpipi.

Kalau manusia satu itu dilengkapi dengan radar intuitif yang baik, seharusnya dia waktu itu sadar bahwa diperhatikan dari jauh. Saya masih bisa bervisualisasi dengan jelas kejadian di maret itu. #ahem. Benar. Saya inget itu bulan maret. :p saya bahkan masih ingat dia sempat memainkan lagu spombob di jeda-jeda break. Ihiy ! 2 minggu di kafe itu, kalau bisa orgasme, mungkin mata ini sudah orgasme. Dan puji setan, untungnya tidak. Pameran di kafe 19 Cuma berlangsung 2 minggu. Setelah itu, orgasme mata ini selesai. Argh !

 Terpujilah siapapun pencipta Friendster. Saya sampai hampir-hampir ingin menikahi dia karena friendster ciptaannya yang begitu berjasa ‘mempertemukan’ saya dengan manusia itu [lagi]. Saat itu mungkin saya bisa dibilang abg paling gaul sefriendster karena intensitas friendsteran yang cukup tinggi. Loh emang ngapain ? yahh. mengecek dan membalas message di inbox. Bagaimana kedengarannya ? :p

Namun lagi-lagi, entah karena apa, sesiapa dan mengapa, perbincangan dua manusia lewat message friendster itu, terputus lagi. Keparat ! tapi mistis. Magis. Ajaibis *alah* otak ini sepertinya terkena efek coriolis. Bumi berotasi. berputar pada porosnya.  Otak saya juga berotasi. Berputar pada porosnya. Tak perlu saya tunjuk lagi, poros yang mana bukan ?!

Dan.. kalaupun ada ciptaan Tuhan yang akan saya sembah secara berhala dengan sukarela hingga saat ini adalah manusia yang menciptakan Yahoo Messenger. Singkatnya, sesekali saya ‘bertemu’ dengan manusia itu lewat dunia maya. Lagi-lagi, obrolan biasa. Fantasi dan ekspektasi belum selancang sekarang.  Tapi harus diakui, dari sekian puluh nama di list messenger, hanya satu nama itu yang cukup membuat saya betah mengobrol untuk periode waktu yang cukup lama. Dan tolong digarisbawahi dengan tinta emas, saya sama sekali bukan wanita yang hobi chatting. Sungguh, saya merasa kegiatan itu sangat membuang waktu. Tapi untuk satu nama itu, selalu ada pengecualian. Ahh ! Kannn ! Sudah saya bilang, ini magis. Tsk ! padahal sungguh, percakapan yang terjadi hanya percakapan biasa. Musik. Lagu. Dan candaan absurd lainnya. Tapi anehnya, saya suka. Cih !

Sampai disini, saya masih berfundamentalkan pada alasan diatas. ‘physically attracted’. dan kebetulan sekali, saya punya kebiasaan yang tidak terpuji. Saya hobi menilai orang dari kulit luar. Saya selalu berpendapat bahwa  dia tak lebih dari sculpture yang bagus tapi isinya kosong. Well, otak saya ini memang naudzubillah mindzalik keterlaluannya. Bisa-bisanya saya menilai seseorang yang tidak belum saya kenal dengan baik seperti itu. Saya layak dirajam. saya akan menusuk diri dengan sendok.

Pernah salah seorang teman pernah bertanya, andaikan. Jikalau. Misalnya. Katakanlah. Tiba-tiba saya diberi kesempatan untuk sedikit lebih dekat dengan si manusia itu, apa saya mau ? taukah anda apa jawaban saya ? ‘ga deh, makasih. dia mentoknya paling jauh Cuma ke mata. Ga mungkin bisa ke hati lah’ ahh ! sombong ! pongah ! congkak ! tinggi hati ! jumawa ! seseorang tolong tendang saya sampai ke Uganda !
Intensitas chatting sempat menurun drastis. Dia kemana, saya pun entah kemana. Nyempil di neraka kali. Dan tiba-tiba saja di bulan Oktober, layar messenger saya jadi sering diisi dengan ID dia. Dari obrolan-obrolan yang berintensitas tinggi itu, mata saya terbuka, pandangan saya seketika berubah. Dia. bukan. sculpture. yang. isinya. kosong. Sama sekali bukan. bahkan sejujurnya, dia satu-satunya lawan bicara yang bisa mengimbangi semua obrolan-obrolan saya dengan sangat baik. Saya banyak menemukan lawan chatting yang membuat saya ingin muntah darah. Narsisme. Kegagalan sistem saraf otak. Gombalisasi yang maha hina. Topik-topik yang menjemukan. Ah. Muak. Tapi dia? Lucu. Cerdas. Dia mencounter back segala obrolan-obrolan dengan sangat baik. Impressive. Sempurna. lalu, petaka ! ngobrol dengan dia terasa adiktif. Menyenangkan. Selalu nyambung. Tidak pernah membosankan. Penuh gurauan, gelak tawa. *alahhh !*

Lalu di satu oktober. Tertanggal 30. Berhari Jumat. Disitulah saya mulai merasakan dahsyatnya konspirasi seluruh bidang alam semesta ini. saya tiba-tiba bertemu dengan dia di chat window. Padahal biasanya saya tidak pernah ada di rumah pada jam-jam seperti itu. Singkatnya, saya diberitahukan bahwa dia akan bermain di kafe, dan mengundang kehadiran saya. neuron saya seketika terstimulasi. Kardiak saya tiba-tiba berdetak puluhan kali lebih cepat. Dan episentrum gempa sepertinya sedang bertitik pusat di diri saya. saya melayangkan sebuah SMS koersif pada teman saya. intinya, saya tidak ingin tau bagaimana caranya, yang pasti saya harus menginjakkan kaki di tempat itu. Segera. Kemudian, beres. Si teman menyanggupi. Dan seketika itulah saya tiba-tiba tidak bisa mengenali diri saya sendiri. Saya panik. Entah panik. Entah euphoria. Entah histeria. Entah demensia. Dan saya pun terserang parkinson tiba-tiba. Kelenjar keringat saya berhenti bekerja. Saya kedinginan di saat cuaca sedang panas-panasnya. Sungguh, tak ada satupun yang akan menyangka saya akan sedemikian durjana. Biasanya saya bisa menyembunyikan hal-hal semacam itu dengan rapi. Tapi tidak malam itu. Tolol. Dan akhirnya setelah beberapa puluh menit berputar dan berteriak-teriak di dalam mobil, akhirnya saya bisa juga tiba disana. Dan sampai disana ? seluruh sistem respirasi dan organ vital saya terganggu. Bangsat.

setelah hampir tidak pernah bertemu selama kurang lebih 1 tahun. Itu kali pertamanya saya bertemu lagi dengan dia. Dan selama 4 tahun saling mengenal, itu benar-benar untuk yang pertama kalinya, saya dan dia bisa ngobrol dengan sangat panjang. Apa rasanya ? well, cukup  senang. Ehem, saya ralat. Rasanya, senang. Hmm. Maaf. Saya ralat lagi. Sangat senang. Sebentar. SANGAT SENANG. #ahem. Okey. Kira-kira seperti itu rasanya. :p dan tak ada satupun yang bisa menyangka, ternyata pertemuan hari jumat malam itu menjadi gerbang pembuka menuju area demensia saya, eh, kami. Ah, sama saja lah ! kisah hari jumat malam, selesai. Saya pulang. Dia pulang. Saya kira akan seperti itu saja. Tidak ada keterlanjutan.

Tapi ternyata tidak, 16 jam setelah itu, saya kembali bertemu dengan dia di Yahoo Messenger. Dia kembali menanyakan tentang kegiatan menyanyi. Walaupun sebelum-sebelumnya memang sudah banyak  wacana dari dia untuk menuju NAV  (yang sudah berulang kali saya tolak *walaupun sesungguhnya ingin xD* karena saya berpacar), namun belum berani saya kondisikan.

Tapi hari itu, Sabtu itu. 31 Oktober 2009. Resistensi saya runtuh (runtuh karena dia tak kunjung menyerah dan karena saya juga kepengen *ditampar*)Tiba-tiba saja ada dorongan untuk mengkondisikan segala rencana itu.

Singkatnya, wacana itu akhirnya terkondisikan. Saya menerima ajakan dia *hahaha*. Kembali saya terserang histeria. Saya menjadi triple kinestetik di ruangan bernomor 23 itu.  Abdominal saya mules. Duduk. Berdiri. Duduk. Berdiri. Kayang. duduk. Berdiri lagi. dan duduk kembali. Lalu dia datang. Dan kecacatan saya berangsur-angsur normal. Puji setan sekali lagi. Lalu saya dan dia duduk bersebelahan. Rasanya ? mengerikan. Huahahaha. Kinestetik badaniah saya seketika sembuh di sebelah dia. Padahal, bahkan bakteri sejenis prokariota saja tau, saya tidak pernah bisa duduk diam lebih dari 20 menit. Yah. Saya curiga, jangan-jangan dia punya sejenis pesugihan, sihir, ilmu hitam, kekuatan supranatural, atau apapun lah itu.  Kalau bukan satu diantara semua itu, apa yang membuat dia begitu magis ? well. tidak perlu dijawab.  

Lalu, dia menyanyi. Bukan hal yang besar sesungguhnya. Tapi mengingat dia pernah mengatakan dia tidak pernah ingin menyanyi, dan ini kali pertamanya dia bernyanyi di depan orang. Saya cukup senang mendengarnya. Setidaknya menjadi orang pertama yang membuat gebrakan dalam hidupnya. *alah* #pentingabis. :p dan, 120 menit di dalam ruangan, lebih banyak dihabiskan untuk bernyanyi. Dia diam. Saya juga diam. Lalu,keparat. 120 menit itu selesai. Lagi-lagi saya mengira, kejadian bernyanyi bersama itu hanya akan terjadi satu kali. Tidak akan ada yang kedua, ketiga dan selanjutnya. Tapi, saya salah. Acara menyanyi itu malah menjadi batu loncatan selanjutnya ke arah yang lebih gila. Acara menyanyi itu ternyata terjadi sampai beberapa kali. Saya bahkan tak bisa mengingat saking seringnya. Dan acara menyanyi itu, ditambah dengan bekerjanya pheromone, oxytocyn, vasopresin, neuropinephrine, dan dopamine menjadi satu,  menyeret kami menjadi semakin dekat. Yeah. Dekat. Secara harafiah. jiwa raga. #muntah

Pernah suatu kali, ketika sedang bernyanyi, mic nya menghantam kepala saya. sungguh saya tidak tau hantaman itu keras atau tidak. Yang saya sadari, sekian detik kemudian saya merasa tangannya sudah mengelus kepala saya. dan demi Tuhan, saat itu saya ingin sekali menghantamkan kepala saya ke tembok saja sekalian (biar dielus agak lamaan maksudnya). XD  #bego

Intensitas menyanyi seketika naik secara signifikan. Saya sendiri tidak ingat berapa kali. Tapi yang pasti setiap minggu selalu ada kegiatan bernyanyi bersama-sama. Lalu lama-lama NAV terasa kehilangan pesona nya. Keberadaan NAV pun akhirnya sesekali tergeser dengan acara makan siang, dan nonton.  Ah, betapa saya terdengar sangat ABG. Well. Nonton. Bisa dibilang tepat ketika film 2012 diputar, saat itu saya benar-benar merasakan kedekatan, walaupun masih secara implisit.

Lalu, di saat si hati mulai merasa euphoria dengan kejadian-kejadian yang ada, otak saya sepertinya tidak mau kalah bekerja. kembali bernalar, mencoba mengalahkan si hati yang sudah hampir membuncah keluar dari kerongkongan. Saya kembali menyusun dan mengumpulkan alasan untuk si otak agar tidak terlalu euphoria dengan kejadian-kejadian belakangan itu. rutin chatting setiap hari ? tidak bisa dijadikan alasan yang cukup kuat bahwa ada ‘sesuatu’. Bisa jadi dia memang rajin chatting setiap harinya dengan entah siapa lah. Dan kebetulan saja saya online ketika dia online. Masuk akal bukan ? lalu, Dia tiba-tiba jadi senang bernyanyi ? yah, mungkin hanya karena menemukan hobi barunya. Yeah, hal-hal semacam itulah yang coba si otak lakukan untuk menghancurkan fantasi-fantasi si hati. Sempat beberapa kali saya ingin mencoba berhenti. Membebaskan diri. tapi sayang, gejala kegagalan otak ternyata sudah menyebar dan cukup berakar. *senang* #loh. Pada akhirnya, arogansi si otak terpatahkan dengan sebuah postingan blog tentang terserangnya virus dari dia (yang saya baru tau pada akhirnya itu adalah postingan yang isinya memberitahukan kalau dia jatuh cinta). Sejujurnya, saya harus membaca sampai beberapa kali untuk mengerti bahwa paragraf itu tidak semestinya saya terjemahkan secara leksikal. Bodoh memang saya ini. XD

Kemudian, akhirnya benar kata saya. film 2012 menjadi gerbang selanjutnya menuju demensia-demensia yang semakin parah. Tiba-tiba saja tersusun sebuah rencana gila dari dia. Menghabiskan malam berdua. Walaupun alasan dia mengajak terdengar sangat ga masuk akal (‘biar tau keadaan pas tengah malem itu kaya apa’ begitu kata dia. Alasan macam apa itu ?) tapi saya iyakan juga. Haha. Semuanya ajakan dia saya iyain emang ujung2nya. xDDD

Dan itu pertama kalinya saya sungguh merasa sangat gila. Bisa-bisanya saya mau melakukan hal segila itu. Berdua. Tengah malam. gila. Saya pasti sudah gila. saya tidak perduli saat itu apa yang sedang merasuki saya, tapi demi sailor uranus, saya tidak menyesal telah memutuskan untuk melakukan hal segila itu. :] Rencana tersusun rapi. 28 November 2009. Seminggu sebelum itu, saya sudah memasuki tahap pre-gemetaran, pre-gugup, pre-euphoria, pre-histeria, dan pre-pre lainnya. Dan akhirnya hari itu tiba. Rencana dimulai pukul 11 malam. Saya bahkan sudah hampir mati kehabisan napas dari pukul 5 sore. Jam 10, saya berada di kamar si teman. Saya kepanasan, lalu kedinginan dan kembali kepanasan. Saya duduk, lalu berdiri. Jalan mondar-mandir. 1 jam menunggu rasanya lama sekali. ahhh ! dan akhirnya, waktunya tiba. Dia datang. Saya senang. *alah !!* #picisan ! dan sumpah demi matahari dan sistem tata suryanya. Saya tidak akan pernah lupa hari malam itu. Dia datang dengan wajah penuh sumringah, menjemput saya lalu mendadak saya dan dia sudah mutar2 di tengah kota.

Masih sulit untuk dipercaya, saya tiba-tiba bersama dia. Di tengah malam. menyusuri jalan. Tak jelas tujuan. Sebentar kesana, sebentar kesini. Tak ada rute jelas. Tapi sumpah demi Tuhan Allah dan seluruh nabi nya, malam itu semuanya terasa indah. Walaupun saya sudah hampir mati kehabisan napas karena sistem respirasi yang lagi-lagi menyerang. Berdua. Di tengah malam. sepanjang 7 jam. Sekali lagi saya katakan, rasanya indah. Bahkan duduk berdua memandang tiang berlampu kuning juga terasa indah. Ckck.. menjijikkannya saya. 7 jam itu habis di jalan. Berputar, tertawa, menyanyi, berbicara. Lalu dia meminta waktu untuk tidur di bangku di tepi jalan di bengkel entah milik siapa. Dia tidur, sambil ngg.. memegang tangan saya. Kemudian saya ? Kemudian saya ? Ah, memperhatikan dia tidur di samping. Itu saja sudah cukup membuat saya pengen membaret kulit saya dengan silet untuk memastikan apa yang sebenarnya sedang saya lakukan. 8)) Lalu kegiatan itu, berakhir dengan kunjungan ke rumah betang kosong. Tempat yang dimana akan menjadi lokasi favorit untuk bertemu. 8))

Disana, saya semakin merasa  sangat kehabisan napas dan akan segera mati. Salahkanlah intimasi yang tiba-tiba datang tanpa ijin. Saat itu, saya sudah berada di tepi jurang. Bersiap untuk terjun bebas, menghantam dasar. Tapi kesadaran saya masih cukup tinggi. Saking tingginya, saya masih bisa menarik diri ketika dia memeluk saya. tolol. Mengingat itu rasanya saya ingin menghujam-hujam kepala ini dengan sumpit bambu. Bukan ! Alasan saya menarik diri bukan karena saya tidak suka dipeluk dia. Tapi entahlah. Mungkin karena gugup, takut, dan saat itu distracting masih menjadi  hobi saya. saya memang termasuk profesional kalau disuruh mengacaukan atmosfir romantisme dan intimasi. :b Lalu, acara itu selesai. Anjing . 7 jam sunguh-sungguh terasa singkat. Sepulangnya dari sana saya masih mengingat dengan baik kalau dia memastikan saya sudah pulang sampai ke rumah dan berterima kasih untuk malam yang menyenangkan itu.

Baik. Kisah menghabisi malam, selesai. 2 Desember (entah kenapa juga saya ingat -___-). Saya, dia dan si teman terjebak, err.. lebih tepatnya menjebak diri sendiri di studio 21. Menonton new moon. Yak benar, New Moon. Atas nama Bella swan dan Edward cullen, dan Jacob black. Saya benci film itu. Amin. :p saya bahkan tidak tau isi film itu sejujurnya. XD yang akan saya tuangkan *alahh!* disini adalah kejadian sepanjang 2 jam itu. Dan pada akhirnya saya harus berterima kasih pada si pembuat film karena telah menciptakan film semembosankan New Moon. Berkat film nya yang membosankan itulah, pikiran saya bisa fokus ke manusia di samping saya. Hayleyluyeahhh ! well,  saya tidak tau siapa yang memulai (yang pasti bukan saya. hahaha)  mendadak saya dan dia jadi skoliosis. Kelainan tulang. Condong ke arah lawan. Dan lalu terjadi pergesekan fisik *apa sih bahasa saya ini ??!*  dimulai dari gesekan statis, sentuhan, dan akhirnya pegangan. Dan saat itu tiba-tiba saja saya menemukan konduktor listrik dan konduktor panas terbaik sejagad raya ini. yeah. Epidermisnya. Satu sentuhan, dan cukup untuk mengaliri panas di seluruh badan saya. Kalau saya bertahan dengan keadaan seperti itu selama 7 jam, saya pasti sudah terbakar jadi abu saking panasnya. XD dan di saat-saat seperti itu, sungguh saya benci penyakit enuresis yang saya derita sehingga membuat saya harus bolak balik ke WC. Rasanya ingin saya tempel ke punggung gajah saja kelamin saya waktu itu. #apasih. taukah seberapa sulitnya melepaskan cengkraman tangannya itu, hah ?! hah ?! biar saya beri tau. SULIT ! TIDAK RELA ! dan itu harus saya lakukan gara-gara kelamin laknat itu. Ahhhhh !! padahal seandainya kalau ada borgol baja disana, saya sudah siap-siap akan memborgol tangan saya dengan tangannya. XD

Lalu saya lupa, tertanggal berapa. Sekitaran sepuluh sekian Desember 2009 mungkin. Rasa rindu pada rumah betang *bohong sih sebenernya*  membuat saya dan dia mengatur pertemuan di sore harinya. 2 jam, di dalam mobil. Terdengar basi ? tapi tidak bagi saya J 2 jam di dalam mobil tetap saja terasa menyenangkan. 2 jam di dalam mobil, dan 20 menit di atas bagasi mobil. Mandangin langit, dikelilingi kumpulan bocah-bocah. Rasanya ? *ahem* roma *ahemmmm!!* ntis. Tidak perlu dibaca ulang dua kali. benar, baru saja saya menuliskan romantis.  *sumpah saya sudah mencari sinonim kata romantis di thesaurus bahasa indonesia, tapi saya tidak menemukannya >.<*  yeah. Buat saya, hal-hal semacam itulah yang bisa saya kategorikan romantis. Bukan makan malam dengan alunan biola menyayat hati yang seperti mengantar kepergian orang mati.

Lama kelamaan, saya merasa kadar adiktif saya pada si manusia yang berkandung zat psikotropika itu semakin tinggi. Hormon2 pun dengan bengisnya bekerja di dalam diri. Hormon itu bekerja membabi buta setiap hari. Korbannya ? saya ! saya tak berdaya #alah. sodara tau apa rasanya ? nikmat-nikmat menyiksa. #halahlagi

Campur tangan ke lima hormon yang sudah saya sebutkan diatas membuat kami akhirnya sepakat membuat rencana untuk menghabisi malam (lagi) pada tanggal 26 Desember (puji tuhan haleluya). dan yak ! hari itu tiba. Saya sudah tidak sepanik sebelumnya. Selama ini dia cukup membuat saya merasa nyaman dan aman berada di dekat dia. Saya merasa terjaga. Saya merasa terlindungi dari bahaya. #apalahh. Jam 12 malam. kisah cinderella-bersepatu-converse-bertali-belang kembali dimulai. Siantan menjadi tujuan pertama. Berputar mencari makan. Dan akhirnya berhenti di sebuah tempat praktek dukun aborsi dokter, sambil menelan martabak isi coklat. :D rasanya ? terus terang, menyenangkan. Sweet. Berbicara santai sambil makan di tepi jalan. Yah, pokoknya menyenangkan ! lalu acara makan selesai. Dan, HUJAN ! saya tidak tau harus berterima kasih atau memaki-maki si hujan. Tapi sepertinya mau hujan atau tidak, malam itu rasanya tetap saja sempurna. Lalu akhirnya saya dan dia kembali menumpang di emperan bengkel orang. Dengan pemandangan.. hujan. Motor dan kendaraan berlalu lalang. Dan diiringi house music dari warung kopi bernama ‘jablay’ di depan. Sekali lagi ijinkan saya menyelipkan kata romantis. #ihiw !! :D yeah. rasanya menyenangkan, dan mendebarkan. Mendebarkan ? yeah. karena sesekali bibirnya menyentuh epidermis punggung tangan saya. :p saya merasa seperti akan mati setiap kali organnya yang satu itu menyentuh epidermis saya. saya ini calon-calon mati muda. Sedikit-sedikit kehabisan napas. Sedikit-sedikit akan mati. #payah ! XD tapi yeah. toh saya rela-rela saja kalau memang harus mati gara-gara beberapa sentuhan labia nya pada epidermis saya. #tapiboong

Setelah sekitar 2 jam menghindari hujan, beberapa kali epidermis tersentuh bibirnya, dua-tiga kali gigitan di lengan dia, berpuluh-puluh kali dorongan dari dalam untuk melompat dan menari-nari kesenangan di tengah jalan, akhirnya kami pun  pergi. Berputar-putar tidak jelas, memaki-maki waktu yang terasa sangat cepat malam itu, dan akhirnya berakhir di sebuah warung kopi. Saya minum teh, dan dia dengan menderitanya harus menelan bubur jadi-jadian yang bentuknya sungguh tidak karuan. XD . lalu, lagi-lagi. dia meminta ijin 5 menit untuk tidur. Lalu, seperti biasa. Kami bermuara di rumah betang. Menduduki singgasana *alah* dan berbicara. Pukul 5 pagi berada di rumah betang, bisa dibayangkan sesunyi apa disana. Ngobrol. Diam. Tertawa. Diam. Ngobrol. Tertawa. Lalu diam lagi. lalu akhirnya, situasi yang mengerikan mengejutkan menyenangkan  saya harapkan impikan doakan takutkan terjadi juga. Mendadak atmosfir di sekeliling menjadi lain. Satuan pengukuran menyebutkan bahwa jarak antara wajah saya dengan wajah dia hanya sekitar 4 jari manusia normal. Yang kalau disimpulkan adalah, sangat dekat ! sebagai manusia yang dilengkapi dengan intuisi yang baik, saya sudah tau akan terjadi sesuatu. Saya sudah hampir menuruti keinginan otak saya untuk meloncat dan kembali mendistract segala situasi yang ada. Tapi saya memilih untuk tidak melakukannya. Sebenarnya bukan memilih untuk tidak melakukan sebenarnya, tapi tidak bisa. Ligamen kaki saya seperti sudah copot dari engselnya. Kaki saya lemas. Lalu, terkondisikanlah. Masing-masing organ berkenalan. XD *istilah macam apa ini =))* dan jangan tanya bagaimana rasanya. Saya merasa organ-organ vital saya berhenti bekerja. badan saya seperti eskrim sundae yang lumer terkena panas. Darah saya seperti tercampur cabe Bhut Jolokia. Badan saya memanas. saya mati rasa. Dan apa rasanya ? well, kejadian itu mengungkap semua yang tersimpan dalam-dalam dan diam-diam selama bertahun2. Saya tidak tau bagaimana menggambarkannya, tapi saya sangat bisa merasakannya. Intinya, saya merasa seperti ada sesuatu perasaan dari dia yang sudah tertahan selama bertahun-tahun, namun belum terungkap dan kejadian itu seperti semacam bahasa universal yang mengungkapkan semua yang belum terucap.

Lalu, setelah kejadian itu, apa kalimat pertama saya yang terlontar ? hmmphh ‘bagaimana cara mengembalikan CO2 kembali ke udara ?’ tolol. Sampai saat ini saya masih tidak habis pikir, di saat itu, tidak adakah kalimat lain yang lebih menggugah selera seperti di dorama jepang atau korea ? XD tapi yeah. kalimat itu benar adanya. Saya memang hampir mati kehabisan nafas lagi gara-gara kejadian itu. Kejadian yang tidak pernah saya bayangkan sama sekali, namun akhirnya benar-benar terjadi.

Lalu berselang beberapa hari setelah itu, saya makan siang dengan dia. Seperti biasa, di jawi ria. Tau apa rasanya bertemu kembali setelah kejadian vulgar *alahh* itu terjadi ? biasa saja. *iya, ini bohong* :p lalu yeah, acara makan siang berlangsung seperti biasa. Manusia normal rata-rata hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit untuk makan. Kami ? memerlukan sekitar 2,5 jam untuk benar-benar bisa bangkit dari tempat duduk. Selalu seperti itu. Hmm, mungkin perlu saya beritahukan sedikit hal. Saya termasuk manusia yang sangat malas duduk berlama-lama di sebuah tempat makan. Tanyakan pada orang-orang yang yang sering melakukan kegiatan makan-makan dengan saya. begitu suapan terakhir dimasukkan ke mulut, saya langsung akan berkata ‘yuk, cabut’ sambil tetap mengunyah makanan dan lalu berdiri, siap-siap pergi sambil minum. Tapi lagi-lagi. dia ? bisa membuat saya duduk selama itu. saya curiga, tubuh dia diselubungi magnetosfer, dan mempunyai kendali dominan atas saya. #cih ! Manusia apa sih dia itu ? Kenapa dia penuh dengan kemampuan-kemampuan luar biasa ?

Ahem. Lanjut pada kegiatan selanjutnya. saya lupa tanggal berapa, kegiatan kami yang selanjutnya adalah memanjakan mata *beuh! * dengan menonton Avatar. Awalnya saya mengira kecintaan dan kegilaan saya terhadap segala sesuatu yang berbau 3d dan animasi akan membuat dia bisa saya acuhkan di dalam studio. Apalagi dengan film sekelas Avatar, yang dimana mata ini benar-benar dibuat orgasme. Tapi toh, ternyata saya masih bisa membagi perhatian antara avatar dengan dia. Pergesekan fisik tetap ada, sentuhan, pukulan, gigitan, jambakan, pegangan juga tak sirna.

 Jangan kira penyakit pneumonia saya sembuh. Tidak sama sekali. Saya masih tetap berhenti bernafas setiap epidermis-epidermis kami bersentuhan. Parah ! dan lagi-lagi saya kembali ingin menempelkan kelamin ini ke punggung gajah gara-gara penyakit enuresis yang datang tanpa kira-kira dan merusak momen-momen indah yang susah payah tercipta.

Kisah romantik *tsahh !* lainnya terkondisi pada tanggal 29 Desember 2009. Satu hari diantara puluhan hari-hari gila lainnya yang sudah saya kami jalani. Saya dan dia. Lagi-lagi. berdua. Pergi sejauh 17 kilometer jauhnya ke arah Jungkat. Dan taukah wahai saudara-saudara sebangsa ? itulah kali pertamanya saya mengendarai mobil keluar kota. Yeah. salahkan dirinya yang membuat saya terus-terusan melakukan hal gila. Yah begitulah, dia orang pertama yang sanggup membuat saya melakukan hal sesinting itu. Silahkan kalau ingin berbangga. dan hmm, saya juga semestinya merasa berbangga dan penuh anugerah karena dia pun memutuskan untuk membolos di hari kerja demi terciptanya kejadian ini. Aha. Saya sudah kesenangan dan hampir mengguling-gulingkan diri di lantai berpaku ketika dia mengatakan bahwa dia akan membolos demi kelancaran acara yang satu ini, tapi atas nama harga diri dan martabat, saya hanya menjawab ‘ohh..’ sambil berpura-pura acuh. Saya memang penipu. XD dan lalu, yeah. 50 menit, dan akhirnya tiba di Jungkat beach. Disana sunyi, sepi. Tak banyak manusia. Lalu kami kebingungan, apa yang akan kami lakukan selama 5 jam kedepan ? tadinya kami mengira 5 jam itu akan lama. Tapi ternyata, 5 jam tidak terasa apa-apa. Fuck !

Lalu. 5 jam diisi dengan hal-hal yang menyenangkan. Ngobrol. Berfoto. Pipis. Tertawa. Mengintai pasangan memadu kasih di bawah pohon, berfoto ala alay. LALUUUUU ! tiba-tiba saja terselip sebuah pembicaraan vital di menit-menit terakhir kepulangan. Walaupun amatiran, saya masih cukup bisa membaca gerak tubuh dia saat itu. Otot-otot tubuhnya menegang. dan dia sepertinya terserang aphasia tiba-tiba. Kesulitan berbicara. Kesulitan memilih kata. kesulitan mengungkapkan rasa. Intinya, dia tampak sangat kesulitan. Dia tampak seperti ibu-ibu yang ketubannya pecah dan akan segera melahirkan. XD Lalu setelah bergumul *alahh !* dengan kesulitan-kesulitan dalam hidupnya itu akhirnya apa yang mau dikatakan keluar juga.

Jadi ternyata, sedari bertahun2 yang lalu. Ketika pertama kalinya saya berkunjung ke distro tempat dia bekerja, ternyata dia juga seperti terserang akan sesuatu. Lalu berlanjut dengan acara penyalahgunaan fasilitas distro untuk meminta nomor telfon, dan memantau kegiatan-kegiatan saya di dunia maya. Semua dilakukan karena satu alasan. Karena suka. Itu pengakuan dia.

Dan demi nabi Musa, saya hampir loncat indah ke pantai di depan saya waktu mendengarnya. Masalahnya, ternyata selama ini saya dan dia diam-diam melakukan hal yang serupa. Menyembunyikan perasaan yang ada, berpura-pura tak peduli ketika ketemu, tapi diam-diam saling mengawasi. Dan sumpah demi galaksi bima sakti, sepertinya itu adalah salah satu penyesalan besar dalam hidup saya. harusnya dari dulu saya sudah percaya ketika teman-teman saya satu persatu mengatakan memang ada sesuatu pada dia. Ada yang lain kalau dia berhadapan dengan saya.

Namun saya memilih tak percaya. Saya lebih memilih mempercayai apa yang saya percayai. Dan sekarang, saya tidak tau bagaimana harus mengungkapkan penyesalan selama 5 tahun itu. Seseorang, bisakah setrum saya dengan raket listrik berbaterai alkalin sekarang ? tolol. Benar-benar tolol. Kurang tolol apa kami, 5 tahun menyembunyikan sesuatu yang sia-sia tak berguna. Kemudian baru terbongkar sekarang, dengan keadaan dan situasi yang sangat sangat sangat tidak tepat. EFF ! tapi yeah, kalaupun sekarang saya dan dia sama-sama menghantamkan kepala ke lantai marmer pun sepertinya tidak ada gunanya.

Satu pertanyaan yang lucu terlontar dari dia ‘jadi apakah kita akan berhenti dari semua ini ?’ Sejujurnya saya bingung. Kondisi ini serba tidak tepat. Saya punya rencana melanjutkan sekolah ke luar dan dia juga tidak dalam kondisi yang memungkinkan. Tapiiiii~ taukah rasanya harus menunggu 1.826 hari untuk datangnya hari ini ? 1.826 hari itu sangat lama. Dan di saat semuanya baru mau dimulai saya memilih untuk berhenti ? ah ! sungguh lelucon ini jauh lebih lucu dari stand-up comedy nya Eddie Izzard. Selain karena tidak ingin berhenti, alasan utama saya bertahan adalah jauh lebih karena saya belum bisa menghentikan ini. Toksin yang ada pada dia terlalu kuat. Entah apa namanya, tapi bisa nya itu dilengkapi dengan neurotoksin dan haemotoksin. Menghancurkan membran otak, dan meracuni darah. Seberapa gawat itu kedengarannya ? :p

Sepulang dari sana, terus terang perasaan saya tidak menentu. Dominasi euphoria dan tercampur paranoia. Euphoria karena perjalanan dan pembicaraan yang menyenangkan dan melegakan itu. Paranoia karena akhir-akhir cerita ini sepertinya sudah tergambar jelas walaupun masih dalam keadaan mozaik. Tapi saya sungguh sudah tak ingin lagi berlama-lama menyesali kondisi. Saya merasa alam sudah cukup baik mengatur segala kejadian-kejadian penuh kebetulan ini. Saya dan dia bisa sampai sejauh ini saja sudah sangat luar biasa. Jadi tidak ada ekspektasi apapun, karena toh saya sudah tahu akhirnya. Ini tidak akan berlanjut lebih lama. Saya dan dia sama-sama harus menjalani kehidupan yang harus kami jalani pada akhirnya, dan cerita ini Cuma akan jadi cerita indah yang hanya kami berdua yang tau.

Tapi setidaknya saya tau satu hal sepulangnya dari kegiatan di pantai jungkat itu. Sebelum hari itu, saya selalu bertanya, apa yang mendasari dia untuk melakukan hal-hal sejauh ini. Flirting, atau jatuh cinta.  Sebelum-sebelumnya saya memang tidak cukup yakin untuk menilai alasan-alasan yang mendasari semua perbuatan dia beberapa bulan terakhir bersama saya. tapi melihat dari cara dia berbicara, menjelaskan perasaannya yang ada dari dahulu, semua yang sudah dia lakukan beberapa bulan terakhir, saya cukup berkeyakinan semua itu didasarkan pada alasan yang kedua. Mata dan gerak tubuhnya menerjemahkan itu pada saya.

Baik. Kisah 17 kilometer itu selesai. Selanjutnya, kegiatan saya dan dia selanjutnya adalah bertemu di kedai kopi. Tidak ada yang fenomenal disana. Kami hanya duduk, memandang laptop nya, mencari lagu, tertawa membaca tulisan-tulisan konyol di blog. Begitu saja. Tapi menyenangkan. Sudah berapa kali saya menuliskan kata menyenangkan dari paragraf awal ? well , intinya hanya satu. Saya senang kalau di dekat dia. Saya senang setiap kali bersama dia. Dan satu kejadian yang mungkin kecil bagi orang lain, tapi mengesankan untuk saya. dia melepaskan jam tangan dan menyembunyikan jam di taskbar laptopnya.  Entahlah. Untuk sebagian orang, mungkin hal semacam ini tidak cukup berarti. Tapi tidak bagi saya. Saya terkesan. Dan sejujurnya, itu hal paling manis dan aneh yang pernah saya terima dari para lelaki. Dia benar-benar mengimpress saya dengan cara yang sangat berbeda.

Baik. Kisah di kedai kopi selesai. Tadinya saya mengira perjalanan ke jungkat itu adalah perjalanan terakhir dan perjalanan terjauh kami. Hahaha. Dan lagi-lagi, untuk kesekian kalinya. Perkiraan saya dan dia meleset. 1 Januari 2010. Awal tahun yang bagus untuk mengawali kegilaan-kegilaan lainnya. Sebuah rencana lagi-lagi terselip. Kembali mengunjungi si ‘17 kilometer’ itu. Perjalanan itu dibuka dengan sebuah bungkusan berisi taro dan milo, makanan favorit pengantar masuk surga. XD lalu dia mengisi perut kosongnya dengan semangkok mie rebus di tepian jalan Siantan. Setelah itu ? mengunjungi Tugu Khatulistiwa. Ih, taukah sodara, itu pertama kalinya saya menginjakkan kaki disana. Dan tidak, kami tidak menginjakkan kaki ke dalam. Apa nikmatnya memandang 4 buah balok kayu ditancapkan ke tanah ?! cih ! :p kami memilih untuk berdiri di tepian sungai, memandang kapal-kapal besar. Dan saat itu, sedikit lagi saya sudah hampir menarik tangannya, mengajak dia terjun ke sungai dan berenang sejauh mungkin sampai tidak ada yang bisa menemukan saya dan dia. Tapi apa mau dikata, berenang saja kami tak bisa. #kasian Lalu, 10 menit disana, dan lalu kami pun enyah. Enyah menuju tempat yang dituju. Jungkat beach.  Dan malapetaka. Sampai disana ternyata tempat itu sama sekali tidak seperti apa yang kami harapkan. Tadinya kami membayangkan tempat yang tentram, tapi ternyata sama sekali tidak ! tempat itu penuh manusia. Dan yang parahnya, berkumandang lagu nike ardilla ke seluruh penjuru arah.

Saya dan dia mencoba bertahan disana, dan kami hanya mampu menyiksa diri selama kurang lebih 20 menit. Setelah itu, kembali kami memutuskan untuk enyah. Dan satu pertanyaan besar melanda. ‘akan kemana ?’ dan sekarang, silahkan tahbiskan saya sebagai manusia yang benar-benar sudah gila. Karena saya dan dia pada akhirnya memutuskan untuk pergi ke mempawah. Sekali lagi, mempawah, yang jaraknya kurang lebih 60an kilometer. Dan sungguh saat itu, saya tidak ingin berpikir apa-apa lagi. saya cuma merasa sangat ingin melakukannya waktu itu. Kalau sosok saya yang dulu masih ada di dalam diri, jangan harap saya akan melakukan hal ini. saya orang yang penuh pertimbangan dan pemikiran. Belum pernah ada cerita tiba-tiba saya mengiyakan ajakan orang untuk pergi sedemikian jauhnya. Apalagi berdua saja ! Dan kembali, dia satu-satunya yang membuat saya bisa melakukan itu.

Dan lalu, akhirnya saya akhirnya benar-benar melakukan hal sinting itu, bersama dia. Rasanya ? indah. Jalanan sepi dengan suapan taro dan lemon water dari manusia di sebelah kiri. Alah ! dasar manja! Padahal biasanya saya bahkan bisa makan eskrim dengan kedua tangan saya sambil menyetir, dan kini tiba-tiba saya harus disuapi hanya untuk snack sekelas taro ? jalang sungguh XD . kemudian dia menanyakan hal yang saya janjikan akan saya bahas beberapa hari sebelumnya. Dan dengan segenap kekuatan bulan saya sungguh berterima kasih saya harus berbicara sambil menyetir, karena saya bisa menutupi kegugupan dengan baik. XD well, saya informasikan lagi, saya bukan termasuk orang yang bisa mengungkapkan apa yang saya rasakan secara verbal. Apalagi ini, disuruh menyampaikan secara verbal dan bertatap muka pula ! waktu itu saya merasa seperti akan harakiri pakai sendok melamin. XD . dan lalu, perasaan yang semestinya saya ungkapkan panjang lebar, hanya saya ungkapkan lewat sebaris kalimat ‘jadi, semua kejadian-kejadian ini, adalah terjadi karena disfungsi otak’ titik. Begitu saja. Sungguh kemampuan menyampaikan kata yang dibawah rata-rata. Namun untungnya dia cukup aktif bertanya, sehingga saya lebih bisa menjawab. Saya tidak akan membahas ini terlalu banyak disini, pembahasan secara personal akan saya bahas di akhir tulisan ini.

1 jam berkendara dari jungkat, dan akhirnya tiba di tepian mempawah. Isinya ? Cuma air laut dan bebatuan yang teronggok tanpa dosa. #pret Sampai disana, saya masih tetap tak percaya, saya berada disana dengan dia. Manusia yang selama ini terkonservasi di alam pikiran saya. dia. Dia yang selalu bisa membuat saya seketika berhenti makan walaupun sedang lapar-laparnya ketika melihat kemunculan dia di warung bu juju. Dan luar biasanya tiba-tiba saja saya berada sekian kilometer jauh nya berdua dengansia. Rasanya benar-benar gila. Lalu akhirnya kami duduk di warung kopi, menghadap ke arah laut. Dan demi langit dan bumi, rasanya benar-benar tenang disana. Fiuh ! sejam disana, dan kemudian pulang dengan bahan pembicaraan yang sama. Membahas tentang keterjadian selama 5 tahun. Mengapa perasaan itu bisa sampai bertahan selama itu. Mengapa dulu setiap kali bertemu, memandang wajahnya saja saya tak mau. Dan cukup mengejutkan, dia mengingat semua kejadian dimana kami pernah bertemu dengan sangat baik. Dia bahkan mengingat warna baju, model rambut, sampai isi bulletin board friendster saya.

Dan pembicaraan itu sungguh melegakan. Akhirnya apa yang disembunyikan, tak terkatakan dan tak terpecahkan *alah* selama 5 tahun, terungkap juga. Ternyata semua fenomena tak terpecahkan itu berakar dari ketololan dan ketidakberanian dua manusia itu sejak 5 tahun yang lalu. Sama-sama diam, saling menunggu, saling menerka, saling berpura-pura. Lalu perjalanan selama kurang lebih 7 jam sejauh 67 km berakhir. Dan dia dengan sempatnya menyentuhkan bibirnya nya di epidermis saya sebelum pulang. ah, saya bisa terserang diabetes melitus kalau terus-terusan diperlakukan seperti ini.  XD

Udara luar kota sepertinya telah meracuni kami berdua. Kami berdua seperti dipelet oleh atmosfer udara jungkat, dan akhirnya kembali kami mengunjungi jungkat pada 7 januari. Silahkan lagi tambahkan sinting di belakang nama saya. ternyata perjalanan itu cukup mencekam, dengan jalanan yang sepi dan lampu yang tak memadai. Tapi tetap saja kami berkendara sampai 17 kilometer jauhnya. Tujuannya ? hanya makan bakso. XD lalu rencana kembali mengunjungi si pantai, gagal karena ternyata pantai itu tidak beroperasi di malam hari. Lalu akhirnya kembali menuju arah siantan. Dengan tujuan, makan (lagi). Pada akhirnya saya dan dia mendarat di tepian jalan, menikmati bakwan. Yeah. dua manusia makan bakwan sampai 1,5 jam lamanya mungkin hanya saya dan dia. Dan lagi-lagi, rasanya sangat menyenangkan. Menertawai ketololan dia tentang udang yang dibujurin, dan menikmati menyiksa dia dengan mengoleskan cabe di bibirnya, berfoto di tempat yang sama sekali tak ada indah-indahnya. Segalanya terasa menyenangkan. Ah, memang pada dasarnya saja saya ini anaknya menyenangkan. *diludah sulfur sianida* Setelah itu, pulang lah saya dan dia dengan mengutuk-ngutuk waktu 3 jam yang sangat pendek itu. Bangsat.

Baik. Kini tiba saatnya saya menjelaskan tentang perasaan-perasaan yang ada. *menarik napas panjang* mungkin selanjutnya anda akan cukup kaget membaca tulisan saya yang terlalu jujur dan apa adanya. Tapi saya merasa, sepertinya ribuan hari ini sudah lebih dari cukup untuk saya dan dia saling menutupi. Saya tak ingin menyesal lebih jauh lagi. Selama ini, saya memang berusaha menyangkal fenomena hina satu ini. *hina ??! XD* suatu kali teman saya pernah bertanya, sebenarnya apa yang saya rasakan pada dia ? suka kah ? sayang kah ? penasaran kah ? dan saya menjawab, tidak tau.

Saya dengan segala arogansi pernah mempertanyakan, kenapa dia ?  kenapa bukan orang lain ? punya apa dia ? dan jawabannya ? tidak tau dan saya tidak ingin mencari tau lagi. yang jelas, bukan lagi karena alasan physically attracted yang saya tuliskan diatas. Yang pasti, Dengan dia saya merasa nyaman, nyambung, bebas, saya merasa bisa jadi diri saya sendiri, saya merasa tidak perlu berpura-pura, saya merasa didengar, saya merasa bisa membicarakan apapun, intinya, saya merasa nyaman dengan dia, dan saya terkesan dengan semua yang dia lakukan untuk saya. Dan pada akhirnya, harus saya akui, saat ini saya memang sepertinya sayang dia desri. 8))

Well, saya tidak tau kapan ini akan berhenti, dan saya belum tau bagaimana caranya berhenti. Sepertinya malah lama-lama saya tampaknya semakin mencari cara agar tidak berhenti dari semua ini. X) saya sejenak seperti melupakan mimpi dan cita-cita saya gara-gara dia. 8)) dan terus terang, saya juga tak ingin memikirkan akhir dari cerita ini. Karena saya percaya, alam pikiran akan menarik alam semesta untuk bekerja. tidak ada satu pun yang benar-benar tau akhir nya, seperti tidak ada satu pun yang tau bahwa pertemuan 5 tahun lalu akan membawa saya dan dia sejauh ini. intinya saya tak ingin berpikir terlalu banyak. Menikmatinya saja terdengar lebih baik.

Dan ehem. Terpujilah kau diantara lelaki-lelaki di bumi. Anggap saja saya sedang terasuki William Shakespeare, anggap saja darah saya sedang tergantikan oleh hormon cartisole, anggap saja  saya sedang keracunan arsenik, anggap saja saya sedang terkena efek samping antihistamin, atau apapun. Saya rasa saya sayang anda. 8))))

Well. Akhir kata, tulisan diatas saya buat dengan sesungguh-sungguh dan sesadar-sadarnya. Inilah elevasi romantisme tertinggi dalam hidup saya. saya bangga ! *halah* XD dan yeah, terima kasih telah menghumanisme kan saya selama 3 bulan ini. saudara akan saya kalungi tanaman kaktus nantinya. 8))  dan maafkan, saya tidak pernah membaca satu novel cinta pun. Jadi saya tidak punya gambaran sama sekali bagaimana si penulis menggambarkan bahwa dia sedang jatuh cinta luar biasanya dengan kalimat yang menyejukkan telinga. xP . sekian.


Jauh dari kata romantis bukan ? :)) Berbeda dengan surat cinta dia memang. But that was the best I can do. Well, that was my letter on 2009, udah 3 tahun yang lalu. Tulisan itu dibuat sebelum pacaran.

I never thought it'd end this way, I was trying to be realistic. To see the conditions, saat itu segalanya memang terlihat tidak memungkinkan. I thought this story would only remain a story of us. But we finally end up together now. So, trust me, if someone really love you, he will make it. It's still too early to write about this actually, but I've seen what he has done for me so far.

Some parts of the story were pretty insane, I know. Like when we had lunch, watched movie, went around the town. Those were all in public places. I mean with all of the risks to get caught.

But the thing I can tell is, you gotta find someone who loves you THAT much, someone that knows how hard does it take just to be with you, someone that would fight anything just for you.

Well, of course this story is not beautiful if it is read by any of our ex. They would really hate us more if they read this. But as for us, what has happened has bring advantages. We've seen how many years we've been wasted just to hide what we feel, we know how hard it is when you want to be with the one you really want but you can't. Dan hasilnya adalah dia yang jadi benar-benar bisa menjaga hubungan sebaik mungkin karena tau apa yang didapat ngga gampang, well it becomes big thing because (I have to repeat this again, I'm really sorry baby xDD) he was once a player (with his 13 exes and not included the girls he cheated with *murdered* xD ) to see how he really take care of this relationships make me relieve a bit.

The moral of this story is, never ever let your feelings untold. Seriously. Rasa penasaran itu berbahaya. :)) So if you love someone, tell them. Don't let it be too late. It hurts to see how you both are really too late to realize what you both are feelings, yknow. So, don't.

Leave a Reply

Sugahpuff. Powered by Blogger.